Oleh: Kompol. M. Syahir Fuad Rangkuti*
Bengkulu, – Provinsi Bengkulu, merupakan wilayah rawan bencana termasuk sunami dan gempa bumi. Strategi, perencanaan, tindakan mitigasi dan adaptasi harus dilakukan agar wilayah ini dapat mengurangi risiko dampak gempa dan sunami bila melanda.
Saya mengutip sebuah narasi orasi ilmiah Guru Besar Ilmu Geofisika Kebencanaan dan Eksplorasi Sumber Daya Alam, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Bengkulu, Prof. Arif Ismul Hadi, di mana dalam naskah pidato orasi ilmiahnya itu pada 2025, ia berhasil memetakan sejumlah wilayah terdampak paling parah bila terjadi gempa bumi di Provinsi Bengkulu.
Pemetaan wilayah terdampak paling parah bila terjadi gempa bumi ditemukan Arif Ismul Hadi dalam penelitiannya yang disampaikan dalam orasi ilmiah di Universitas Bengkulu beberapa Waktu lalu.
Arif menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Peranan Ilmu Geofisika dalam Perencanaan dan Pengembangan Wilayah berbasis Mitigasi. Adapun wilayah yang dikaji Kabupaten Lebong dan Kota Bengkulu.
Kabupaten Lebong menurut penelitiannya salah satu wilayah paling rentan bila terjadi gempa akan terdampak buruk mengingat Lebong memiliki dua ancaman yakni longsor dan gempa bumi.
“Wilayah kajian Lebong, terdapat sesar Sumatera segmen Ketahun memanjang 85 kilometer dengan slip rate (laju geser) 11 millimeter per tahun. Selain itu di Lebong terdapat juga sesar-sesar skunder yang dapat menambah cepatnya pergerakan tanah. Semakin dekat jarak sesar semakin berpotensi longsor akibat gempa bumi,” ujarnya dikutip dari naskah orasi ilmiah pengukuhan guru besar, Prof. Arif Ismul Hadi.
Kondisi tersebut semakin diperperah dengan tingginya tingkat curah hujan yang dominan 2.500 mm per tahun. Batuan dan tanah di Lebong umumnya bersifat lunak, kondisi lereng, kemiringan dan tutupan lahan.
“Hasil penelitian menunjukkan potensi longsor tinggi berada di Kecamatan Pinang Belapis, Uram Jaya, Pelabai, Lebong Sakti, Bingin Kuning, Lebong Tengah, Lebong Selatan dan Rimbo Pengadang. Daerah yang berpotensi longsor sedang berada di Sebagian Pinang Belapis, Uram Jaya, Lebong Utara, Lebong Sakti, Amen, Pelabai, Lebong Atas, Bingin Kuning, Lebong Selatan, Topos dan Rimbo Pengadang,” tulisnya.
Sedangkan luasan yang berpotensi longsor tinggi mencapai 3.214,9 hektar (2 persen), longsor sedang 131.143,26 hektar (82 persen), lonsor rendah 25.613,89 hektar (16 persen).
Selanjutnya untuk gempa di Kota Bengkulu daerah yang berisiko rendah terhadap bencana gempa secara umum terletak di Kecamatan Selebar.
Menurut penelitian Arif Kecamatan Selebar secara geologis formasi batuan pada daerah ini merupakan formasi batuan andesit terdiri dari litologi berupa pasir dan kerakal yang kecepatan gelombang seismik paling tinggi daripada daerah lain.
Ia merekomendasikan pembangunan daerah di luar kawasan ini seperti di utara dan barat laut Kota Bengkulu, perlu dikaji lebihlanjut peruntukkannya, misalnya digunakan hanya untuk pariwisata. Bila dipaksakan mendirikan bangunan harus dipertimbangkan bangunan tahan gempa.
Dalam penelitiannya Arif menggunakan metode Horizontal to Vertical Spectral Ratio (HVSR), metode Mutlichannel Analysis pf Surface Wave (MASW), Seismik Refraksi dan pembobotan statistik Analytical Hieraarchy Process (AHP).
Sejarah Gempa Bengkulu
Bengkulu merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang paling aktif secara seismik karena posisinya yang dilalui oleh dua sumber gempa utama, yaitu Zona Subduksi Megathrust Sumatera (segmen Mentawai-Pagai dan Enggano) di laut serta Sesar Sumatera (seperti Segmen Ketahun) di darat.
Catatan sejarah menunjukkan bahwa Bengkulu telah berulang kali diguncang gempa merusak sejak berabad-abad lalu. Berikut adalah daftar peristiwa gempa paling signifikan dalam sejarah Bengkulu:
1. Era Kolonial dan Pra-Abad ke-20
Desember 1681 & 3 November 1756: Gempa besar pertama yang tercatat dalam dokumen sejarah kolonial di Bengkulu.
Maret 1818 & 24 November 1883: Rentetan gempa tektonik kuat yang merusak infrastruktur pemukiman awal.
November 1797 & 1 Juni 1833: Gempa megathrust dahsyat di sepanjang pantai barat Sumatera yang memicu tsunami besar dan getarannya merusak area Bengkulu hingga Sumatera Barat.
2. Gempa Darat (Sesar Lokal) Abad ke-20
27 Juni 1902 (M 5,8): Gempa darat dangkal yang merusak bangunan di wilayah Lais, Bengkulu Utara.
Tahun 1943 (M 7,4): Dipicu oleh aktivitas sesar lokal Segmen Ketahun. Gempa ini menghancurkan wilayah antara Desa Tes hingga Muaraaman, menyebabkan sekitar 90% rumah penduduk di Desa Tes roboh.
8 Juni 1938 (M 7,8) & 6 September 1952: Gempa kuat yang kembali berpusat di darat dan menelan banyak korban jiwa serta kerusakan lingkungan.
3. Gempa Megathrust Modern (Abad ke-21)
Juni 2000 (M 7,9): Gempa dahsyat yang bersumber dari Megathrust Enggano. Guncangan ini memicu kepanikan luar biasa, menyebabkan 103 orang meninggal dunia, ribuan luka-luka, serta meruntuhkan lebih dari 15.000 rumah, tempat ibadah, dan fasilitas umum. Gempa ini tidak memicu tsunami.
12-13 September 2007 (M 8,4 & M 7,9): Gempa terbesar dalam sejarah modern Bengkulu yang bersumber dari Megathrust Mentawai-Pagai. Gempa utama M 8,4 terjadi pada 12 September, disusul gempa M 7,9 pada hari berikutnya. Rangkaian gempa ini memicu tsunami setinggi 3,5 meter, menewaskan 25 orang, dan merusak ribuan bangunan di Bengkulu hingga Sumatera Barat.
4. Aktivitas Seismik Terbaru
23 Mei 2025 (M 6,3): Gempa bumi tektonik mengguncang wilayah Kabupaten Seluma dan Kota Bengkulu pada dini hari. Gempa intraslab (deformasi batuan dalam lempeng) ini merusak hampir 100 rumah warga dan tempat usaha, serta menyebabkan beberapa orang luka berat, meskipun tidak berpotensi tsunami.
Kondisi geologi batuan sedimen di pesisir Bengkulu cenderung memperkuat efek guncangan, membuat mitigasi struktural seperti bangunan tahan gempa menjadi kebutuhan mutlak bagi masyarakat setempat.
Tulisan ini disarikan dari naskah pidato orasi ilmiah Guru Besar Ilmu Geofisika Kebencanaan dan Eksplorasi Sumber Daya Alam, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Bengkulu, Prof. Arif Ismul Hadi, pada tahun 2025 di Universitas Bengkulu. Orasi ilmiah itu berjudul:
“Peranan Ilmu Geofisika Dalam Perencanaan dan Pengembangan Wilayah Berbasis Mitigasi Bencana.”. (**)
Peserta didik (Serdik) Sespimen Angkatan 67 TA 2026, Sespim Lemdiklat Polri







